Archive | just a thought RSS feed for this section

2011: My Year in Review… Bagaimana denganmu?

1 Jan

Mengingat dan mengumpulkan kembali kenangan yang terserak sepanjang tahun 2011.

Januari

Beragam berita menjadi pembuka tahun 2011… and now I believe that something always happened for a reason. Alhamdullilah…

Februari

Lagi suka banget dengan CD-nya Due Vocci. Sepanjang jalan pulang dari kantor, lagu-lagunya selalu menemani. Big decision was made.

Maret

What a lovely month! Bulan Maret selalu istimewa karena Marcel dan Ayahnya berulang tahun, juga karena ada my wedding anniversary. Di penghujung bulan ini, saya juga sempat jalan-jalan ke Bangkok with my lovely Mom and Auntie, mba Yayuk.

Di ulang tahunnya yang ke-4 tahun, Marcel dapat kado sepeda dari Eyang Meruya… Waaah, saking senangnya, bangun tidur pun yang dimainin adalah sepedanya :)

April

Di negara 4 musim, inilah saat bunga-bunga mulai bersemi. Sebagaimana saya yang memulai jalinan ‘cinta’ baru dengan kantor baru :) (lebay.com) 

Hari-hari di bulan ini dihabiskan untuk hura-hura: jalan-jalan dan makan-makan!

Mei

New office, new friends… Minggu pertama kerja, langsung “jalan-jalan” ke Bali. Begini kira-kira suasananya :)

Juni

Marcel lulus dari sekolah play group dan terpilih jadi murid terbaik di kelas :)

Di Juni ini, juga time to say bye-bye si merah… Terima kasih sudah menemani perjalanan kami selama beberapa tahun terakhir…

Juli

Marcel masuk ke sekolah baru. TK yang sama dengan TK saya waktu kecil! Bahkan, guru yang dulu pernah mengajar saya juga masih ada di sekolah ini… Bedanya sekarang beliau sudah jadi Kepala Sekolah :)

Oh, ya bulan ini Eyang Tatin berulang tahun… Syukurannya diadain di rumah baru…

Agustus

Bulan ini cukup sibuk. Ada puasa, Lebaran, 17-an (?) dan juga ulang tahun Mama dan saya.

September

Happy Birthday Papa!!

Bulan ini sepakbola lagi in. Lagu Garuda di Dadaku terus-menerus diputar di radio dan Marcel pun gak ketinggalan ikutan nonton bola di Senayan.

Oktober

Marcel udah tambah besar. Lihat…lihat…bagus kan, gambarnya? Hehe…

November

Konser pertama Marcel sejak ikutan sekolah musik. Untuk dapat tiketnya pun perjuangan, karena ternyata sold-out!

 

Desember

Mengawali bulan terakhir 2011 dengan liburan sekeluarga. Waktu yang mepet disiasati dengan beragam cara, yang penting semua senang! :)

Banyak mau, kurang waktu. Tak terasa sudah di penghujung tahun. Rasanya masih banyak keinginan yang belum sempat dilakukan. Semoga diberikan umur panjang dan kesehatan, sehingga masih bisa berkarya dan jadi orang yang lebih baik lagi di tahun depan…

2012, we’re coming….

Yogya yang Bersahaja

28 Oct

Kalau ada kota yang selalu bikin ‘rindu’, itu adalah Yogya.

Bukan karena Malioboro, Parangtritis atau Kaliurang. Bukan pula karena nostalgia karena dulu pernah lama tinggal di sini. Tapi, karena di kota ini masih banyak ditemukan orang-orang yang tulus dan bersahaja. Dan yang pasti, tidak materialistik.

Maaf saja… saya bukan lagi ngomongin anak kuliahan, pejabat atau warga “kelas atas” Yogya. Yang saya maksud adalah orang “kecil” yang kebanyakan kerja di sektor informal.

Si mbok penjual nasi “gudhangan” di Pasar Prawirotaman, Yogyakarta menjajakan nasinya Rp 2.500,- per bungkus. Isinya nasi, urap, dan tempe. Masih di pasar yang sama, penjual ketan lupis menjual dagangannya Rp 1.000,- per porsi. Pedagang tempe bacem menjual tempenya Rp 500,- per buah untuk sebuah tempe bacem yang besar, hangat dan enak. Penjual sego kucing di depan hotel, menjual nasinya Rp 1.000,- , isinya nasi, oseng-oseng teri/tempe dan sambel yang sangat “miroso”.  Kadang kalau mikir dari sisi materi, untung dan rugi, dengan usaha yang dikeluarkan: “ngonthel” sepeda dari desa berkilo-kilo meter sejak subuh (pastinya memasaknya lebih pagi lagi), lalu menjual dagangannya seharga segitu, kapan dia bisa kaya, ya?

Itulah pikiran sempit saya, yang ngakunya orang “kota”. Tapi, siapa yang mengira, kalau mbok Jum yang biasa jual nasi “gudhangan” itu sudah naik haji sejak bertahun-tahun lalu! Hanya dari jualan nasi “gudhangan” seharga Rp 2.500.-!

Subhanallah, rezeki dari Allah SWT memang tidak akan lari ke mana. Apa yang sudah digariskan oleh-Nya akan kita dapat, tidak dilebihkan dan tidak dikurangi.

Pada hari terakhir di Yogya pas Lebaran kemarin, juru parkir di jalan Parangtritis memberikan kembalian Rp 1.000,- saat diberikan receh Rp 2.000,-. Itu pun dengan senyum mengembang, membungkukkan badan dan ucapan terima kasih yang sungguh-sungguh, seakan-akan saya baru saja memberinya uang 1 juta……

Mungkin… buat warga Yogya itu hal yang biasa, tapi buat yang biasa tinggal di Jakarta, “hal-hal kecil dari orang kecil” seperti itu cukup menyentuh hati.

Semoga Bapak itu hidupnya diberkahi Allah SWT.

Inspirasi Penulis Indonesia

23 Sep

Mumpung ngantuknya udah hilang, habis Subuhan enaknya nulis yang rada ‘serius’ (?)

Dulu saya malas baca buku atau novel yang made in Indonesia. Saya lebih suka baca novel dari penulis luar; itupun saya suka yang versi aslinya alias tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Buku berbahasa Indonesia yang saya beli, paling-paling hanya komik dan majalah saja. Agak beda untuk komik, justru menurut saya lebih lucu versi bahasa Indonesianya. Pernah baca Tintin? Perhatiin deh… Tintin versi Indonesia (yang masih terbitan Indira) lebih lucu daripada versi aslinya. Mana ada dalam versi aslinya, sumpah serapah Kapten Haddock macam “seribu topan badai!”, “babon bulukan!”, “setan laut!” :)

Anyway, preferensi saya terhadap buku dan novel Indonesia mulai berubah sejak terbit novel Laskar Pelangi dan sekuel-sekuelnya. Dilanjutkan dengan mulai banyaknya buku mengenai perjalanan, salah satunya seri Naked Traveler.

Saya suka tulisan mengenai perjalanan, karena dari situ saya bisa dapat informasi  tentang banyak negara di dunia langsung dari si pelaku dan dari sudut pandang orang Indonesia. Mulai dari tulisan perjalanan yang super ringan (baca: buku-buku serinya jalan-jalan hemat), tulisan lucu ala Naked Traveller, sampai ke tulisan-tulisan yang lebih serius (yang mungkin lebih cocok dimasukkan dalam kategori fiksi atau seri pengembangan diri…… ?).

Salut buat para penulis buku, yang menurut saya patut dijadikan sumber inspirasi. Tidak hanya karena tulisannya yang berbobot dan inspiratif, tapi juga bikin hati senang setelah baca bukunya!

Beberapa di antaranya:

Andrea Hirata. Tidak perlu dijelasin lagi siapa dia. Saya perlu berterima kasih khusus, karena berkat novel Laskar Pelanginya, saya jadi suka lagi dengan buku-buku dan novel berbahasa Indonesia.

Ahmad Fuadi. Penulis novel Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna. Alumnus Gontor dan bekas wartawan Tempo dan VoA. Orang ini hebat banget prestasinya, antara lain penerima beasiswa Fullbright dan British Chevening. Saat membaca Negeri 5 Menara, sempat terpikir untuk memasukkan Marcel ke Gontor (yang langsung ditolak keras oleh Ayahnya, karena gak mau pisah jauh… Hehe… Emaknya juga gak mau pisah, ding..  ).

Habiburrahman El Shirazy. Penulis novel Ayat-Ayat Cinta dan novel-novel lainnya… maaf tidak hafal, karena yang paling suka hanya novel Ayat-Ayat Cinta saja.

Muhammad Assad. Penulis buku Notes from Qatar. Usianya mungkin masih 23 tahun, tapi pengetahuan tentang agama dan buah pikirannya luar biasa.  Ganteng dan (kayaknya masih single). Could be Indonesia future leader! Moga-moga kalau nanti jadi pemimpin, idealismenya tetap seperti sekarang….

Trinity. Yang suka buku-buku travelling pasti tidak asing dengan nama ini. Boleh dibilang, doi adalah pioneer penulisan buku- buku travelling di Indonesia (hmmm, bener gak ya?). Tulisannya berdasarkan pengalaman pribadi: lucu dan lugas. Gara-gara buku Trinity, saya jadi tahu ada negara pulau bernama Palau yang manusianya gigantic dan kehidupannya komikal banget.

Amelia Masniari alias Miss Jinjing. Penulis seri Belanja Sampai Mati, Rumpi Sampai Pagi, Pantang Mati Gaya dan beberapa buku lainnya. Gaya penulisannya perempuan banget dan lumayan kocak buat tahu potret gaya hidup ibu-ibu the haves Indonesia. Eh, ternyata si Miss Jinjing dan Trinity itu ada hubungan keluarga lho… *penting, gak?*

Claudia Kaunang. Penulis buku seri jalan-jalan hemat. Yang menarik adalah idenya. Dulu siapa terpikir kalau buku berisi tips jalan-jalan bisa laris di pasaran? Dan kalau gak salah, sejak jadi penulis laris, dia pun sekarang mulai bikin tur jalan-jalan ala backpacking. Well, menarik kan… peluang bisnis muncul dari buku.

Agustinus Wibowo. Petualang yang juga penulis. Bukunya: Selimut Debu dan Garis Batas, wajib dibaca oleh penggemar travel writing sejati. Dari mana bisa tahu kehidupan di Afganistan kalau gak baca buku ini (dan buku Kite Runner.. tapi itu kan novel terjemahan!). Mengutip komentar yang bersangkutan dalam blog-nya http://avgustin.net/blog/ :  “…destinasi itu bukan segala-galanya. Perjalanan pada hakikatnya bukan lagi mencari eksotisme, tetapi proses untuk belajar, dan kita sebenarnya bisa belajar di mana saja. It’s not about the destination, it’s about the journey. Jadi destinasi mana pun adalah istimewa, bahkan kampung halaman sendiri yang sudah begitu Anda kenal”. Nah…

Sekarang, kalau dilihat-lihat koleksi buku dan novel saya mulai berimbang antara yang asli Indonesia dengan buku dan novel impor. Untuk itu, rasanya saya perlu berterima kasih kepada penulis-penulis di atas, karena sudah berhasil membuat saya kembali membeli buku-buku buatan penulis Indonesia!

Btw, adakah penulis-penulis generasi baru Indonesia lain yang layak untuk diapresiasi lagi?


2010 in Review (Ahay! Thanks readers!)

3 Jan

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Fresher than ever.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 4,300 times in 2010. That’s about 10 full 747s.

In 2010, there were 5 new posts, growing the total archive of this blog to 66 posts. There were 8 pictures uploaded, taking up a total of 635kb.

The busiest day of the year was June 24th with 66 views. The most popular post that day was Season Finale – Our Wedding Story (Part 3).

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were google.co.id, facebook.com, blogcatalog.com, en.wordpress.com, and blog-indonesia.com.

Some visitors came searching, mostly for memasak dengan slow cooker, song of the sea ticket, bleketepe, cara memasak dengan slow cooker, and cara menggunakan slow cooker.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Season Finale – Our Wedding Story (Part 3) February 2009

2

Memasak dengan Slowcooker April 2009
7 comments

3

Petualangan Song of the Sea (Family Trip to Singapore – Day 2) May 2009
5 comments

4

Family Trip to Singapore (Day 1) April 2009

5

Main ke Rumah “Alex” di Madagaskar, Universal Studio, Singapura August 2010
1 comment and 1 Like on WordPress.com,

When The Light is Off

11 Jul

memandangi lilin

Just like the moment…

Sepatutnya Kita Bersyukur

4 Mar

Sore tadi saya melewati jalan Yos Sudarso di daerah Jakarta Utara.
Di sebelah kiri jalan, berderet-deret pabrik, kantor, dan showroom mobil.
Antara area gedung dan trotoar terdapat parit yang cukup lebar dan dalam.
Karena ini daerah banjir, biasanya gedung-gedung di sepanjang jalan ini punya pompa-pompa besar yang mengalirkan air dari dalam area mereka ke parit ini.
Tak hanya saat hujan, seringkali saya amati, pipa-pipa air itu mengalirkan air yang cukup deras ke dalam parit saat musim kering.
Apakah itu air limbah atau air kotor? Saya tidak tahu.

Saat saya melintas sore tadi sekelompok anak laki-laki berumur sekitar delapan tahun-an bergerombol di situ. Apa yang mereka lakukan?
Masya Allah, ternyata mereka lagi mandi di bawah pompa air itu!
Sudah jelas, air di situ tidak jernih dan tidak bersih. Warnanya saja hitam kelam!
Anak-anak ini mungkin anak jalanan atau berasal dari wilayah kumuh padat penduduk yang berada di sisi kanan jalan Yos Sudarso?

Mereka melepas seluruh pakaian kumal mereka, telanjang “nyemplung” ke parit dan mandi di bawah “grojogan” pipa air limbah!

Ya, Allah, apakah orangtuanya tahu?
Apakah orangtuanya peduli?
Apakah orangtuanya masih hidup?

Badan mereka terlihat sehat walaupun kulit mereka hitam kelam.

Mereka, anak-anak itu, tidak memilih untuk menjadi seperti itu, kan?
Saya merenung..
Dulunya mereka pun pernah jadi bayi… dan pastinya semua bayi lucu kan?
Dulu pun saat masih bayi, mereka selalu ditimang-timang, dipeluk dan diciumi, kan?
Semoga saja.

Saya terus menerus bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT kepada saya.
Saya tidak tahu apa yg harus saya lakukan buat mereka.
Ingin rasanya turun dari mobil, memanggil dan meneriaki mereka untuk tidak mandi di parit itu.
Tapi saya tidak bisa. Sniff.

Saya hanya berdoa, semoga mereka dilindungi oleh Allah di manapun mereka berada.
Semoga mereka tidak dijadikan bulan-bulanan preman jalanan.
Semoga tidak ada pria abnormal yang sinting dan tidak bernormal yang mensodomi mereka.
Semoga mereka diberi kesehatan.
Semoga nasib mereka membaik… sehingga saat besar nanti mereka menjadi orang yang berguna dan terhormat!

Remembering Those Days…

23 Jan

from 21th floor with garfield

Suddenly, I miss those days when we’re living in the apartment.

Saat itu kita baru nikah…

Saat itu Marcel masih dalam perut Mama…

masak-masak di dapur yang imut

Saat itu Mama suka makan mie bangka di deket parkiran dan Ayah suka masakin nasi goreng mawut buat Mama.

Saat itu Mama rajin minum air kelapa, suka ngemil stroberi, dan makan mangga.

love music, young Marcel...

Saat itu Mama suka dengerin lagu-lagu classics menjelang bobo, ditemenin ama Kak Garfield.

Saat itu Ayah suka “terusir” bobo di ruang depan TV, hehehe.

Bahkan saat itu banjir besar pun menenggelamkan Kelapa Gading dan sekitarnya.

Mama nelangsa, karena gak ada makanan, beli Aqua musti rebutan dan ketakutan kalau lampu dan air mati, padahal kamar Mama ada di lantai 21. Gimana kalau lift mati dan Mama musti turun lewat tangga?

Padahal waktu itu, umur Marcel sudah 7 bulan dalam perut Mama.

Saat banjir itu, Ayah tetap kerja dan walaupun pulangnya malam serta musti menembus banjir setinggi paha, Ayah tetap pulang karena kasian ama Mama yang terjebak sendirian di apartemen.

Saat itu, supaya bisa dievakuasi keluar dari wilayah banjir, Mama pun musti pakai sepatu bot (ala pedagang pasar Kramat Jati) dan naik truk tentara, Nak!

Sewaktu sampai di pinggir jalan Yos Sudarso, air sudah setinggi paha, jadi tetap aja airnya masuk ke dalam sepatu. Akhirnya dengan susah payah naik ke atas jalan tol, Mama sampai di mobil dan Ayah dengan sukarela, mencuci kaki Mama dengan Aqua dan Dettol.

Ayah sudah sayang Marcel… karena takut kuman dari air banjir kena ke Marcel…

Oh, ya, Mama punya videonya waktu Mama nyebrang banjir itu, karena teman Ayah yang kebetulan liputan di situ, merekam momen itu.

Nanti kalau Marcel udah besar, dilihat ya…. Lucu deh, Nak :)

Protected: Pengalaman Mengurus Paspor

17 Jan

This post is password protected. To view it please enter your password below:

Jadi Istri Wartawan?

1 Jan

Hmmmm…. dulu waktu kuliah, suer, saya gak kepikiran buat punya suami wartawan :)
Takdir Allah mempertemukan Ayah & Mamamarcel di tempat kerja. Kebetulan waktu itu saya jadi PR dan dia jadi wartawan dari salah satu media yg bertugas meliput acara di kantor saya :)

Gak panjang lebar ceritanya (ntar malah jadi novel, hehe), intinya kita married and punya anak, si Marcel yg lucuuu…

Pertanyaannya, gimana sih rasanya jadi istri wartawan?

Here is the list:

1. Sebel dengan jam kerja yg gak tentu. Kadang masuk pagi (ini bisa berarti bener2 pagi, seperti jam 06.00 pagi!). Kadang masuk siang (jam 14.00 loh). Kadang masuk malam (ini artinya emang beneran malam, yakni jam 22.00)

2. Karena jam kerja yg ajaib, pulangnya pun ya, jadi ajaib. Kalau masuk jam 22.00, misalnya, ya, berarti pulangnya bisa jam 06.00 or 07.00 pagi keesokan harinya (di saat saya justru malah baru mau berangkat kerja).

3. Dan ini bisa gonta-ganti tiap minggunya. Maksudnya, kadang minggu ini rutin masuk pagiii terus. Eh, minggu depannya, masuk malaaaam terus. Atau, malah, kalau yg bikin jadwal rada sableng, ya, bisa hari ini masuk malam, lusa masuk pagi.

4. Jarang ketemu dooong? Begitulah, bisa dibayangkan sendiri kapan ketemu dan ngobrolnya dgn my hubby :)

5. Gak enak dooong, kalau begitu? Hmm, ini tergantung.

Tergantung gimana kita bisa manfaatin situasi yg ada :) Misalnya, kalau dia lagi masuk malam… ya, udah, nikmati kesendirian saat malam, dengan nonton DVD, baca buku or main internet :) Kadang-kadang, enak juga loh, malam-malam sendirian… bisa bebaaaaas, berasa single dan bobo pun gak ada yg “ngerusuhin”. Heheee.

6. Oh, ya, jadwal liburnya pun berbeda dg kita yg libur di Sabtu-Minggu. Dia bisa Senin-Selasa, bisa Kamis-Jumat, dsb. Suka-suka aja pokoknya, tergantung jadwal. Ini nih yg bikin reseh, karena pas kita libur di Sabtu-Minggu, kadang justru dia musti kerja… Bete kan, gak ada yg nyopirin jalan2 :)

7. Tapi ada enaknya juga, kalau pas dia libur di weekdays… Misalnya, dgn mengantar-jemput saya ke kantor…. :)

8. Sering tugas keluar kota atau keluar negeri, sih udah pasti. Jadi musti siap hati dan pikiran, terutama kalau destinasi penugasannya bikin deg-degan, kayak di zona perang or bencana. Kalau liputannya yg hepi2 kayak Olimpiade sih, gak masyalaah…

9. Pernah waktu itu, saya lagi hamil gedhee… Suddenly, dia ditugasin ke Maluku buat liputan tentang penangkapan nelayan asing… Sebel banget tuh, udah ditugasinnya mendadak, perginya jauh pula ke Maluku. Juga waktu dia ditugasin ngeliput daerah bencana, seperti gunung meletus, or banjir. Sebagai istri yg baik, ya, paling kita hanya bisa berdoa, supaya dia dikasih kemudahan dan perlindungan saat bekerja.

10. Ikut deg-degan, kalau dia disuruh liputan LIVE (… my hubby kerja di TV)… Deg-degannya berasa kita yg mau siaran loh! Takut dia salah ngomong, takut LIVE-nya jelek, takut wajahnya katro (padahal kan yg nonton se-Indonesia… Hehe). Pokoknya begitu LIVE-nya selesai… Pffiuh, lega rasanya.

Kalau saya renungkan lagi, kayaknya kehidupan rumah tangga emang saya jadi agak gak normal dengan profesi suami sebagai wartawan.
Tapi saya gak berasa sedih tuh… Justru senang, apalagi kalau pas dia muncul di TV dan anak saya ikutan nonton…
Marcel pasti akan teriak-teriak: “Ada Ayah di TV…!” Lalu, dia akan lari ke belakang TV, dan ngintip-ngintip seakan-akan Ayahnya sembunyi di situ… Hihihi.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.