Archive | books, books, books RSS feed for this section

Inspirasi Penulis Indonesia

23 Sep

Mumpung ngantuknya udah hilang, habis Subuhan enaknya nulis yang rada ‘serius’ (?)

Dulu saya malas baca buku atau novel yang made in Indonesia. Saya lebih suka baca novel dari penulis luar; itupun saya suka yang versi aslinya alias tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Buku berbahasa Indonesia yang saya beli, paling-paling hanya komik dan majalah saja. Agak beda untuk komik, justru menurut saya lebih lucu versi bahasa Indonesianya. Pernah baca Tintin? Perhatiin deh… Tintin versi Indonesia (yang masih terbitan Indira) lebih lucu daripada versi aslinya. Mana ada dalam versi aslinya, sumpah serapah Kapten Haddock macam “seribu topan badai!”, “babon bulukan!”, “setan laut!” :)

Anyway, preferensi saya terhadap buku dan novel Indonesia mulai berubah sejak terbit novel Laskar Pelangi dan sekuel-sekuelnya. Dilanjutkan dengan mulai banyaknya buku mengenai perjalanan, salah satunya seri Naked Traveler.

Saya suka tulisan mengenai perjalanan, karena dari situ saya bisa dapat informasi  tentang banyak negara di dunia langsung dari si pelaku dan dari sudut pandang orang Indonesia. Mulai dari tulisan perjalanan yang super ringan (baca: buku-buku serinya jalan-jalan hemat), tulisan lucu ala Naked Traveller, sampai ke tulisan-tulisan yang lebih serius (yang mungkin lebih cocok dimasukkan dalam kategori fiksi atau seri pengembangan diri…… ?).

Salut buat para penulis buku, yang menurut saya patut dijadikan sumber inspirasi. Tidak hanya karena tulisannya yang berbobot dan inspiratif, tapi juga bikin hati senang setelah baca bukunya!

Beberapa di antaranya:

Andrea Hirata. Tidak perlu dijelasin lagi siapa dia. Saya perlu berterima kasih khusus, karena berkat novel Laskar Pelanginya, saya jadi suka lagi dengan buku-buku dan novel berbahasa Indonesia.

Ahmad Fuadi. Penulis novel Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna. Alumnus Gontor dan bekas wartawan Tempo dan VoA. Orang ini hebat banget prestasinya, antara lain penerima beasiswa Fullbright dan British Chevening. Saat membaca Negeri 5 Menara, sempat terpikir untuk memasukkan Marcel ke Gontor (yang langsung ditolak keras oleh Ayahnya, karena gak mau pisah jauh… Hehe… Emaknya juga gak mau pisah, ding..  ).

Habiburrahman El Shirazy. Penulis novel Ayat-Ayat Cinta dan novel-novel lainnya… maaf tidak hafal, karena yang paling suka hanya novel Ayat-Ayat Cinta saja.

Muhammad Assad. Penulis buku Notes from Qatar. Usianya mungkin masih 23 tahun, tapi pengetahuan tentang agama dan buah pikirannya luar biasa.  Ganteng dan (kayaknya masih single). Could be Indonesia future leader! Moga-moga kalau nanti jadi pemimpin, idealismenya tetap seperti sekarang….

Trinity. Yang suka buku-buku travelling pasti tidak asing dengan nama ini. Boleh dibilang, doi adalah pioneer penulisan buku- buku travelling di Indonesia (hmmm, bener gak ya?). Tulisannya berdasarkan pengalaman pribadi: lucu dan lugas. Gara-gara buku Trinity, saya jadi tahu ada negara pulau bernama Palau yang manusianya gigantic dan kehidupannya komikal banget.

Amelia Masniari alias Miss Jinjing. Penulis seri Belanja Sampai Mati, Rumpi Sampai Pagi, Pantang Mati Gaya dan beberapa buku lainnya. Gaya penulisannya perempuan banget dan lumayan kocak buat tahu potret gaya hidup ibu-ibu the haves Indonesia. Eh, ternyata si Miss Jinjing dan Trinity itu ada hubungan keluarga lho… *penting, gak?*

Claudia Kaunang. Penulis buku seri jalan-jalan hemat. Yang menarik adalah idenya. Dulu siapa terpikir kalau buku berisi tips jalan-jalan bisa laris di pasaran? Dan kalau gak salah, sejak jadi penulis laris, dia pun sekarang mulai bikin tur jalan-jalan ala backpacking. Well, menarik kan… peluang bisnis muncul dari buku.

Agustinus Wibowo. Petualang yang juga penulis. Bukunya: Selimut Debu dan Garis Batas, wajib dibaca oleh penggemar travel writing sejati. Dari mana bisa tahu kehidupan di Afganistan kalau gak baca buku ini (dan buku Kite Runner.. tapi itu kan novel terjemahan!). Mengutip komentar yang bersangkutan dalam blog-nya http://avgustin.net/blog/ :  “…destinasi itu bukan segala-galanya. Perjalanan pada hakikatnya bukan lagi mencari eksotisme, tetapi proses untuk belajar, dan kita sebenarnya bisa belajar di mana saja. It’s not about the destination, it’s about the journey. Jadi destinasi mana pun adalah istimewa, bahkan kampung halaman sendiri yang sudah begitu Anda kenal”. Nah…

Sekarang, kalau dilihat-lihat koleksi buku dan novel saya mulai berimbang antara yang asli Indonesia dengan buku dan novel impor. Untuk itu, rasanya saya perlu berterima kasih kepada penulis-penulis di atas, karena sudah berhasil membuat saya kembali membeli buku-buku buatan penulis Indonesia!

Btw, adakah penulis-penulis generasi baru Indonesia lain yang layak untuk diapresiasi lagi?


I Heard That Song Before

20 Oct

i heard that song beforeSebagai fans berat dari Mary Higgins Clarks, Mamamarcel udah hapal banget dengan gaya penulisan dia.

Singkat-singkat dibagi per bab. Tapi ending dari setiap bab selalu menarik dan memancing rasa penasaran
“apa yang akan terjadi selanjutnya?”
atau
“oh, jadi itu ya clue-nya?”

Karena Mary Higgins Clarks sangat efisien dalam penokohan dan melukiskan karakter tokohnya.
Setiap tokoh dalam novelnya selalu punya peran menentukan endingnya cerita,
walau dengan kontribusi yang sangat kecil sekalipun.
Setiap kalimat dan peristiwa yang dilukiskan juga pasti akan ada hubungannya dengan keseluruhan cerita.
Tidak ada deskripsi yang sia-sia dan berlebihan.
Semuanya serba efisien dan pas.

Termasuk bukunya kali ini: I Heard That Song Before.

Cukup creepy. Bagaimana kalau orang yg terdekat dengan kita – suami kita – ternyata adalah seorang pembunuh berantai? Parahnya adalah kita cinta mati ama dia???

Khas Mary Higgins Clark, alur cerita tidak bisa ditebak.

And this is one of my favorite book.

The Kite Runner

5 Jul

cover kite runner“Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan hidup seseorang” (kutipan dari Khaled Hosseini dalam The Kite Runner)

Buku ini sangat menyentuh. Meninggalkan kesan dalam setelah membacanya.
Bercerita tentang persahabatan yang (mulanya) indah antara Amir dan Hassan, dengan latar belakang
Afghanistan yang (juga mulanya) adalah negara yang indah, damai sebagaimana layaknya negara-negara bermartabat lainnya di dunia.

Selain akan mendapatkan gambaran yang mendetil dan rinci tentang bagaimana sih, kehidupan di Afganistan sebenarnya (yg pastinya sulit didapat tanpa penceritaan dari native personnya), kita juga akan mendapatkan banyak insight bahwa hidup itu tidak selamanya hitam dan putih. Semua orang punya sisi baik dan buruk, walaupun pada beberapa orang nampaknya sisi buruk jauh lebih dominan dan tidak akan hilang sampai ia mati.

Diawali dengan cerita masa kecil Amir dan Hassan yang indah, lucu dan nakal, di mana sebuah tragedi terjadi bahkan di saat mereka sedang merayakan masa-masa penuh tawa. Tragedi yang akhirnya membekas seumur hidup dan tidak akan dilupakan oleh kedua tokohnya.

Pemberontakan Taliban yang akhirnya mengubah seluruh sendi-sendi kehidupan kota Kabul, juga mengubah jalan hidup Amir, yang akhirnya pindah ke AS bersama Baba-nya. Meninggalkan masa lalunya yang indah, dan juga kelam.

Tapi, ternyata perasaan berdosa terus menyelimuti hati kecil Amir, bahkan setelah dia berkeluarga.
Suatu telepon dari teman lama di masa lalu akhirnya menggugah Amir untuk kembali ke negara yang dicintai dan dibencinya itu.

Di sinilah petualangan kembali dimulai.
Perjalanan dari Pakistan ke Afghanistan pun penuh dengan cerita.
Misi Amir hanya satu: menemukan kembali Hassan dan menebus kesalahannya di masa lalu.

Takdir ternyata berkata lain.

Alih-alih diberikan kemudahan untuk bertemu dengan Hassan, Amir pun “terpaksa” harus melakukan segala upaya, termasuk mengatasi rasa takut dan bersalahnya untuk menolong seseorang yang lain. Mahluk kecil yang menunggunya di tengah riuh perang dan kesemrawutan, menanti siang dan malam
sebuah keajaiban untuk ditolong dan keluar dari negeri yang kacau balau itu.

Bisakah Amir memeluk Hassan kembali dan mengatakan langsung padanya betapa ia sangat merindukannya?
Bisakah Amir menebus dosa masa lalunya?

Ending dari buku ini cukup dramatis, kalau tidak bisa dibilang agak menggantung.
Tapi setelah membaca buku ini, rasanya akan sangat berdosa kalau kita tidak mensyukuri apa yang
telah kita miliki saat ini. Keluarga yang lengkap dan saling menyayangi. Negeri yang tidak dalam keadaan perang, walaupun situasinya serba sulit buat sebagian orang.

Patut direnungkan adalah jika kita punya kesempatan untuk berbuat sesuatu yang baik saat ini, jangan tunda sampai lain kali, karena siapa mengira bahwa kita mungkin tidak akan punya kesempatan untuk melakukannya lagi.
Dan kesempatan tidak akan datang dua kali.
Sekali penyesalan datang, itu akan membayangi sepanjang hidup kita.

Jakarta, 21 Juni 2008.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.