Yogya yang Bersahaja

28 Oct

Kalau ada kota yang selalu bikin ‘rindu’, itu adalah Yogya.

Bukan karena Malioboro, Parangtritis atau Kaliurang. Bukan pula karena nostalgia karena dulu pernah lama tinggal di sini. Tapi, karena di kota ini masih banyak ditemukan orang-orang yang tulus dan bersahaja. Dan yang pasti, tidak materialistik.

Maaf saja… saya bukan lagi ngomongin anak kuliahan, pejabat atau warga “kelas atas” Yogya. Yang saya maksud adalah orang “kecil” yang kebanyakan kerja di sektor informal.

Si mbok penjual nasi “gudhangan” di Pasar Prawirotaman, Yogyakarta menjajakan nasinya Rp 2.500,- per bungkus. Isinya nasi, urap, dan tempe. Masih di pasar yang sama, penjual ketan lupis menjual dagangannya Rp 1.000,- per porsi. Pedagang tempe bacem menjual tempenya Rp 500,- per buah untuk sebuah tempe bacem yang besar, hangat dan enak. Penjual sego kucing di depan hotel, menjual nasinya Rp 1.000,- , isinya nasi, oseng-oseng teri/tempe dan sambel yang sangat “miroso”.  Kadang kalau mikir dari sisi materi, untung dan rugi, dengan usaha yang dikeluarkan: “ngonthel” sepeda dari desa berkilo-kilo meter sejak subuh (pastinya memasaknya lebih pagi lagi), lalu menjual dagangannya seharga segitu, kapan dia bisa kaya, ya?

Itulah pikiran sempit saya, yang ngakunya orang “kota”. Tapi, siapa yang mengira, kalau mbok Jum yang biasa jual nasi “gudhangan” itu sudah naik haji sejak bertahun-tahun lalu! Hanya dari jualan nasi “gudhangan” seharga Rp 2.500.-!

Subhanallah, rezeki dari Allah SWT memang tidak akan lari ke mana. Apa yang sudah digariskan oleh-Nya akan kita dapat, tidak dilebihkan dan tidak dikurangi.

Pada hari terakhir di Yogya pas Lebaran kemarin, juru parkir di jalan Parangtritis memberikan kembalian Rp 1.000,- saat diberikan receh Rp 2.000,-. Itu pun dengan senyum mengembang, membungkukkan badan dan ucapan terima kasih yang sungguh-sungguh, seakan-akan saya baru saja memberinya uang 1 juta……

Mungkin… buat warga Yogya itu hal yang biasa, tapi buat yang biasa tinggal di Jakarta, “hal-hal kecil dari orang kecil” seperti itu cukup menyentuh hati.

Semoga Bapak itu hidupnya diberkahi Allah SWT.

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.