Benar kata sebagian orang, bahwa ketika bepergian terkadang kita terjebak dalam situasi yang sulit atau kurang mengenakkan. Ajaibnya, terkadang pula datang bantuan ataupun simpati dari orang yang tidak kita sangka-sangka.
Saat di Moscow, seorang laki-laki bule dengan baik hati membawakan koper saya, saat dia melihat saya terlihat kesulitan membawa koper itu menuruni tangga di stasiun metro. Jutaan orang tiap harinya menggunakan metro di Moscow. Seperti kota-kota besar lainnya, peak hour adalah pagi dan sore hari. Walaupun kereta datang hampir setiap menit, sepertinya sudah jadi kebiasaan orang di sini untuk jalan cepat (udah badan tinggi gede, langkah kakinya cepat pula).
Nah sore itu, saya dan suami lagi pulang ke hotel dari pasar Ismailovo, menggunakan metro. Suami bertugas menggendong Marcel, Pretty si pemandu kami mendorong stroller, sementara saya kebagian bawa koper kecil ukuran kabin berisi belanjaan di Ismailovo
Sebenarnya koper saya engga berat, tapiiii stasiun metro di Moscow itu kan, penuh dengan tangga naik-turun yah, jadinya ya… saya kesulitan aja membawa koper itu.
Stasiun metro di Moscow, letaknya bisa jauuuh di dalam tanah. Walaupun ada tangga berjalan, tapi kadang kita musti manual naik-turun tangga. Trus kadang baru ketemu tempat mendatar dikit, eh musti turun tangga lagi. Baru turun tangga, belok dikit, eh musti naik lagi. Dan parahnya di stasiun metro gak ada lift (mungkin karena kebanyakan dibangun sejak tahun 1950-an, di mana teknologi lift mungkin belum ada? Gak tahu juga sih). Jadi, memang kebanyakan metro di Moscow tidak friendly terhadap penyandang cacat (yang pakai kursi roda) atau kalau bawa bayi dengan stroller atau turis yang bawa koper kayak saya! Selama di Moscow saya memang belum pernah menemukan, penyandang cacat pakai kursi roda ataupun ibu-ibu bawa stroller naik metro.
Singkat kata, saat saya kesulitan menuruni tangga, tiba-tiba ada laki-laki bule, masih muda, lumayan cakep, pake topi dan earphone di telinga – tipikal anak muda sekarang lah.. menegur saya pakai bahasa Rusia. Saya gak ngerti dia ngomong apa, tapi dalam hitungan detik, dia meraih koper di tangan saya, dan membawanya menuruni – menaiki tangga, sampai di peron stasiun. Belum sempat saya bilang “spacibah” (terima kasih, dalam bahasa Rusia), tuh orang udah ngacir, bergegas mengejar kereta, seperti kebanyakan Moscower lainnya (kenapa juga gak jalan pelan2 sih? toh telat 1 menit, dalam 1 menit berikutnya kereta datang lagi?).
Bagi saya ini cukup mengharukan. Apalagi sebelumnya, saya sempat agak parno dengan tipikal kebanyakan orang Rusia yang terlihat kaku, dingin, dan tidak ramah. Salah besar memang, menilai orang dari stereotype mereka.
Pengalaman saya lainnya mengajarkan, tidak semua orang Asia itu ramah! Waktu itu saya dapat tugas kantor ke Tokyo untuk menghadiri Tokyo Motor Show. Hari pertama Tokyo Motor Show biasanya adalah Press Day, di mana pengunjung dibatasi untuk wartawan dan wakil dari Distributor. Saat itu saya lagi berada di booth Toyota, di mana akan ada Press Conference dari President Toyota Motor Corporation. Berhubung Toyota adalah market leader di Jepang dan salah satu pabrikan otomotif terbesar dunia, booth Toyota dipenuhi wartawan dari berbagai negara, baik wartawan TV ataupun cetak, di mana semuanya berebutan untuk dapat posisi strategis untuk mengambil gambar.
Saya sih sebenarnya hanya lihat-lihat saja, karena saya kan bukan wartawan
Tapi tanpa saya sadari, saya sudah berada di tengah kerumunan wartawan di depan stage Toyota. Di depan saya, ada sekelompok wartawan Jepang, yang sepertinya sih dari stasiun TV (kelihatan dari kameranya). Berhubung saya pendek, susah juga untuk melihat ke depan, jadi saya beringsut-ingsut pindah ke posisi yang kosong. Saat saya pindah ke depan itulah, tiba-tiba salah satu wartawan TV Jepang yang ada di depan saya, menghardik dan berteriak kasar kepada saya (untung dalam bahasa Jepang, yang saya gak ngerti artinya…mungkin kalau saya ngerti artinya, tuh orang udah saya gampar, hehe… ). Sepertinya orang ini marah ke saya karena mengira saya mencoba merebut posisinya. Yeee, GR amat yak, saya kan cuman mo liat ke depan. Sedih deh.
Nah, teriakan orang ini emang agak keras, jadi orang-orang di sekeliling saya semuanya menoleh. Saya masih bengong aja sambil pasang tampang bloon.
Daripada ribut, saya pun pindah (lagian bingung apa yang diributin). Lalu tiba-tiba seorang laki-laki bule menggamit tangan saya, menawari saya untuk pindah ke tempat dia berdiri, sambil tersenyum simpatik kepada saya. Dia bilang saya bisa pindah ke tempat dia, kalau ingin melihat ke depan. Teman si bule itu pun (ganteng) juga berkata, dia tidak habis pikir dengan kelakuan si Jepun yang kasar itu. Sniff, mendadak hati saya berdesir, ternyata masih ada ya, orang baik di dunia ini (agak lebay sih…hihi).
Tapi saya sudah kadung sebal sama gerombolan Jepun gila itu sehingga saya pun menolak tawaran kedua orang bule ganteng yang baik hati itu






Recent Comments